tepo – desa-in https://desa-in.com NUSANTARA Fri, 25 Sep 2020 14:20:12 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.5.1 https://desa-in.com/wp-content/uploads/2020/09/cropped-desa-in-32x32.jpg tepo – desa-in https://desa-in.com 32 32 Lembah METRO https://desa-in.com/2020/09/25/lembah-metro/ https://desa-in.com/2020/09/25/lembah-metro/#respond Fri, 25 Sep 2020 12:51:51 +0000 https://desa-in.com/?p=1067 ]]> https://desa-in.com/2020/09/25/lembah-metro/feed/ 0 Panen Tomat https://desa-in.com/2020/09/24/panen-tomat/ https://desa-in.com/2020/09/24/panen-tomat/#respond Thu, 24 Sep 2020 16:45:11 +0000 https://desa-in.com/?p=994

Petani di Kota Batu, Jawa Timur, memanen buah tomat di lahan miliknya, beberapa waktu lalu. Petani lainnya mengolah lahan untuk ditanami sayur mayur. Selama masa wabah virus korona baru (covid-19), petani tetap produktif. Mereka bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan. Hasil panen di jual ke pasar tradisional dan pasar sayur di Karangploso.

Kendati harga sayur mayur selama covid-19 sempat longsor, tapi petani tetap setia bertani. Mereka mengolah lahan dan hasil panennya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Harga tomat di pasar Karangploso, Kecamatan Karangploso dan di Unit Pelaksana Teknis Subterminal Agrobisnis Mantung, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, mulai membaik. Tomat sayur dijual Rp1.500 per kg, Kamis (24/9/2020). Tomat buah dijual Rp2.500 per kg.

Sejauh ini petani belum mengolah buah tomat menjadi produk olahan saos. Tantangan agroindustri saos adalah kontinuitas pasokan tomat untuk bahan produk saos. Selain itu, harga yang tidak stabil membuat rumit agroindustri.

Sebab, ketika harga buah tomat menyentuh Rp5 ribu per kg, petani memilih menjualnya ke pasar ketimbang memenuhi permintaan industri dengan harga lebih rendah. Namun, agroindustri sebuah keniscayaan di masa sekarang dan mendatang.

]]>
https://desa-in.com/2020/09/24/panen-tomat/feed/ 0
Menanti Food estate di Level Desa https://desa-in.com/2020/09/24/menanti-food-estate-di-level-desa/ https://desa-in.com/2020/09/24/menanti-food-estate-di-level-desa/#respond Thu, 24 Sep 2020 14:18:41 +0000 https://desa-in.com/?p=965

Program ketahanan pangan unggulan sebagai lumbung pangan baru itu disebut food estate. Perusahaan perkebunan dan pertanian berbasis pangan strategis tersebut berada di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Pemerintah sudah merancang dengan sangat serius. Pengelolanya bisa menerapkan sejumlah pola ditangani oleh badan, BUMN atau skema lain berupa investasi. Di lahan bekas proyek gambut mulai digarap optimal menjadi salah satu program strategis nasional 2020-2024.

Program itu pula sebagai solusi memenuhi kebutuhan pangan di tengah masa pandemi covid-19. Memang, stok pangan nasional masih bisa bertahan selama periode Maret-Desember 2020. Stok beras di Bulog juga masih tersedia. Sebagian petani pun terus menanam untuk mencukupi kebutuhan pangan.

Namun, para pakar pangan memprediksi, fase krisis bakal dimulai pada awal Januari 2021. Bahkan, organisasi pangan dunia (FAO) mengingatkan, fase krisis masa pandemi bisa berlangsung selama 3 tahun ke depan. Itu pun bila pandemi cepat tertangani.

Dalam situasi normal sebelum masa pandemi, setiap memasuki ramadan, hari raya dan tahun baru, misalnya, selalu terjadi gejolak harga. Pasokan yang tersendat kerap memicu kenaikan harga di pasar. Belum lagi bila petani menyimpan hasil panen untuk mengamankan pangan keluarga masing-masing.

Bisa jadi petani salah tanam yang bukan produk dibutuhkan pasar. Atau, mereka sengaja menghentikan tanam mengingat selama masa pandemi yang secara logika harga pangan bisa lebih menguntungkan, kenyataannya justru jeblok. Petani banyak yang mengeluh. Akhirnya, mereka beralih tanam, menanam bukan tanaman pangan selama periode kemarau untuk memenuhi tren pasar.

Salah satu contohnya petani di Kota Batu, Jawa Timur. Saat harga sayur mayur ambles, mereka membiarkan tomat dan cabai siap panen layu di pohon. Sebab, biaya operasional panen tak sebanding dengan hasil penjualan. Selanjutnya, petani memutuskan menanam tanaman hias untuk memenuhi kebutuhan pasar yang sedang hits setelah pedagang bunga krisan dan bunga mawar berteriak minta pasokan.

Sebenarnya, ketersediaan lahan untuk produksi tanaman pangan masih membentang bila pemerintah pusat sampai daerah serius menggarap, membantu dan mendampingi petani. Akan tetapi upaya itu belum optimal dilakukan.

Kebijakan yang ada juga belum sepenuhnya mendukung para petani. Tidak ada subsidi angkut dan harga, belum ada kepastian penyerapan hasil panen, serta belum ada pemda yang berani memberikan keringanan pajak bumi dan bangunan kendati janji itu sudah digaungkan sejak lama. Justru saat memulai tanam musim kemarau, pupuk subsidi langka.

Akhirnya, kebanyakan petani membiarkan lahannya kosong sembari menunggu musim hujan tiba. Petani yang tidak melanjutkan tanam bisa jadi kekurangan modal kerja atau berhitung soal harga. Dampak dan resiko kondisi itu dari sisi pasokan pangan ke depan tentu sudah bisa dihitung mulai sekarang. Pasokan pangan bisa berkurang.

Dalam kondisi itu, sepatutnya pemerintah hadir agar petani tidak disergap tengkulak. Setidaknya, petani dimotivasi dengan memberikan beragam kemudahan. Pemda sudah seharusnya mendata potensi lahan yang bisa dioptimalkan untuk digarap.

Bila perlu melibatkan pengusaha dan perguruan tinggi untuk membantu tata kelola dan tata niaga di level desa. Pertanian dan peternakan yang terintegrasi dengan pasar bisa menjadi salah satu solusi. Food estate itu konsep yang seharusnya bisa dikembangkan di level desa. Sebab, semua potensi ada di perdesaan mulai tanah atau lahan, infrastruktur, tenaga kerja sampai pasar. Semua desa bisa didesain sebagai produsen pangan berbasis food estate. Leading sector-nya BUM-Des berkolaborasi dengan pengusaha. Persoalannya hanya niat baik dan kemauan stakeholder untuk mewujudkan.

Sedangkan dalam jangka waktu enam bulan ke depan, food estate yang disiapkan pemerintah baru terlihat kemajuannya hadir untuk kemandirian pangan sekaligus mengatasi krisis. Dalam situasi krisis, pasokan pangan diharapkan bisa disuplai dari lumbung pangan modern tersebut. Bukan hanya beras, tapi jagung, ubi kayu, ubi jalar dan komoditi pangan lainnya pun dimaksimalkan, seluruhnya digarap sangat serius untuk mencapai swasembada.

Prospek pangan yang dikembangkan tersebut memiliki pasar potensial karena sepanjang zaman dibutuhkan masyarakat. Sebab, penduduk Indonesia lazimnya tidak mengonsumsi roti, daging dan keju sebagai makanan pokok. Beras masih menjadi yang utama. Singkong dan ubi jalar merupakan bahan pangan yang secara kultural tak mudah ditinggalkan.

Dalam konteks ini kehadiran food estate sangat dinanti keberhasilannya mengingat di era pemerintahan sebelum Jokowi pernah merancang program serupa untuk menggaungkan swasembada pangan. Tentu, sekarang semua pihak optimistis program ini menuai kemajuan yang berarti.

Menurut Presiden Joko Widodo, food estate dibangun untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Program itu strategis bagi pertahanan negara. Karena itu Jokowi menunjuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebagai penanggung jawab, kepala komando pembangunan proyek. Kendati leading sector berada di Kemenhan, prosesnya melibatkan Kementan sebagai tim ahli pertanian dan Kementerian PUPR. Gubernur dan Bupati juga aktif memantau pelaksanaannya.

Seluruh potensi di bekas lahan gambut itu dioptimalkan dari hulu sampai hilir. Lahan yang sudah disiapkan di Kalteng seluas 178 ribu hektare. Lahan digarap bertahap. Nantinya bakal merambah Sumatra Utara. Tahap awal program menggarap 30 ribu ha, lalu meluas 148 ribu ha. Padi menjadi andalannya untuk mengisi logistik nasional. Yang artinya pemerintah ingin memperkuat pangan strategis. Tujuannya agar tidak terus-terusan impor. Dalam waktu dekat berusaha mengatasi ancaman krisis pangan.

Program ini sangat vital untuk memulai langkah cepat kemandirian pangan. Pasalnya, selama pandemi covid-19, negara pengekspor pangan dunia berusaha mengamankan pangan negara masing-masing. Indonesia tak ingin ketinggalan, untuk itu melakukan percepatan agar problem pangan ke depan teratasi. Semua itu tentu membutuhkan dukungan semua pihak agar bergotong royong mewujudkan kemandirian pangan.

]]>
https://desa-in.com/2020/09/24/menanti-food-estate-di-level-desa/feed/ 0
Noko Selayar Yang Eksotis https://desa-in.com/2020/09/24/noko-selayar-yang-eksotis/ https://desa-in.com/2020/09/24/noko-selayar-yang-eksotis/#respond Thu, 24 Sep 2020 09:57:42 +0000 https://desa-in.com/?p=940

Suatu pagi yang cerah, debur ombak pantai melantun pelan mengguyur pasir putih dibalut angin yang berhembus ringan. Dua perahu klotok yang ditumpangi 10 orang aktivis Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Hijau Daun, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, menembus ombak kendati dibayangi perasaan khawatir. Sebab setelah di tengah laut tiba-tiba ombak mulai membesar.

Perahu yang mereka tumpangi, berkali-kali terangkat ke udara, berkali-kali pula terhempas ke permukaan air. Cipratan air laut sempat masuk ke geladak hingga mengenai penumpang. Namun, perahu terus melaju ke tempat tujuan.

Sekitar 15 menit perjalanan, akhirnya terlihat warna pulau didominasi putih yang disinari matahari sungguh kontras dengan birunya laut. Burung-burung camar (Laridae) berjemur bagaikan wisatawan menikmati harmonisasi alam yang seimbang.

Di hamparan pasir putih itu tidak banyak tanaman yang tumbuh. Hanya tersisa rumput, mangrove dan cemara. Terlihat pula potongan kayu berukuran besar yang terdampar setelah terbawa ombak.

Para aktivis Pokmaswas sengaja menancapkan sebagian kayu-kayu itu beberapa waktu lalu agar berdiri tegak untuk menegaskan penanda di pulau yang tidak memiliki pal batas tersebut. Kendati posisi pulau di tengah laut, tapi tidak pernah tenggelam meski air laut sedang pasang.

Para aktivis Pokwasmas konsisten menjaga lingkungan sekaligus sebagai pengawas pulau. Mereka rutin membersihkan sampah plastik, botol bekas air mineral, jarum suntik hingga mata pancing yang menancap pada kayu-kayu di pulau kecil tersebut.

Entah sejak kapan kayu-kayu dan sampah itu menjadi bagian dari pulau. Setiap air laut pasang, ombak membawa sampah yang mengotori pulau eksotis itu.

“Pulau Noko Selayar dulu seluas 10 hektare labih, sekarang tinggal 0,8 hektare. Lantas mengalami kerusakan setelah aksi pembabatan mangrove pada 1998. Pasir putihnya dikeruk dan dijual ke luar Bawean. Sejak saat itu, ekosistemnya semakin menurun,” tegas Ketua Pokmaswas Hijau Daun, Pulau Bawean, Gresik, Jatim, Subhan baru-baru ini.

Pemuda yang tergabung dalam Pokmaswas menjaga pulau sejak beberapa tahun lalu agar kerusakan tidak menjadi-jadi. Berbagai upaya sudah dilakukan mulai sosialisasi dan edukasi hingga mengajak semua pihak turut merawat lingkungan hidup. Sampai akhirnya para penjaga pulau itu berhasil membuat ekosistem mulai pulih. Warga pun mulai tobat setelah membabat mangrove.

Seiring berjalannya waktu, pulau cagar alam menjadi lestari. Pulau yang penetapannya sejak 25 Oktober 1926 itu berbatasan dengan Desa Dekat Agung dan Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kini, menjadi rumah singgah lagi bagi burung camar yang bermigrasi dari Australia.

Penyu-penyu pun semakin percaya menitipkan telur di rumah bersama bagi satwa lainnya. Beberapa tahun lalu, satwa-satwa itu menyingkir dari pulau lantaran merasa tidak aman untuk menetaskan telur bagi generasi baru penyu di Bawean. Sekarang, satwa eksotis tersebut kembali ke rumah mereka yang pernah ia tinggalkan.

Pulau Noko Selayar menyatu menjadi bagian dari Pulau Bawean atau “Pulau Putri”. Bawean dijuluki “Pulau Putri” lantaran warga yang tinggal di rumah lebih banyak perempuan ketimbang pria. Sebab, para pria merantau untuk bekerja di luar negeri.

Di kawasan setempat, cagar alam Pulau Noko dan Pulau Nusa seluas 15 hektare di bawah kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Memiliki panjang jalur batas kawasan 2,6 km, belum pernah dilakukan rekonstruksi dan tidak memiliki pal batas.

Menurut data di BKSDA, potensi ekosistemnya batu karang. Berbagai jenis rumput laut mendominasi flora di kawasan setempat, yaitu rumput teki (Cyperus rotundus), rumput krokot (Portulaca oleacea), rumput padi-padian (Andropogon aciculatus), rumput brekak-brekak cakar ayam (Chloris barbata), katang-katang (Ipomoea pescaprae). Adapun fauna terdiri atas burung pelikan (Pelicanidae), burung belibis putih (Threskiornis aethiopicus), burung dara laut (Sternidae), berbagai jenis Crustacea dan ubur-ubur.

Untuk ke pulau yang menjadi kawasan terbatas ini cukup mudah. Transportasi menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Gresik menuju Pulau Bawean. Sedangkan jadwal kapal motor cepat dua kali seminggu. Perjalanan ditempuh selama 3-4 jam.

Setelah sampai di Pelabuhan Sangkapura, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Desa Daun. Transportasi juga bisa menggunakan pesawat dari Bandara Juanda, Surabaya, menuju Bandara Harun Thohir, Pulau Bawean. Sesampai di Desa Daun, untuk menuju Pulau Noko Selayar menggunakan perahu kelotok selama 15 menit perjalanan.

]]>
https://desa-in.com/2020/09/24/noko-selayar-yang-eksotis/feed/ 0
Budikdamber Unisma Tumbuhkan Ekonomi https://desa-in.com/2020/09/24/budikdamber-unisma-tumbuhkan-ekonomi/ https://desa-in.com/2020/09/24/budikdamber-unisma-tumbuhkan-ekonomi/#respond Thu, 24 Sep 2020 04:55:37 +0000 https://desa-in.com/?p=925

Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri Msi. (Foto: Dok. Humas Unisma)

Universitas Islam Malang (Unisma), Jawa Timur, mengembangkan konsep budikdamber dan riset herbal guna memperkuat ketahanan pangan selama masa wabah virus korona baru (covid-19).

“Konsep budikdamber itu budi daya ikan di dalam ember. Sekarang sudah berjalan, kita memanen di belakang kampus,” tegas Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri Msi, Selasa (19/8).

Maskuri menjelaskan konsep budikdamber diterapkan Unisma melibatkan masyarakat sekitar kampus. Semua peralatan dan pembinaan budi daya ikan itu disediakan oleh Unisma. Sedangkan masyarakat yang merawat. Setelah 15 budikdamber berhasil, lalu dikembangkan lebih luas merambah Kabupaten/Kota Malang dan Kota Batu.

Upaya itu terbukti mengangkat perekonomian warga, sebab setelah sebagian besar mahasiswa pulang kampung, warung-warung di sekitar kampus menjadi sepi. Karena itu, pengembangan budikdamber menjadi solusi bagi ekonomi warga di tengah masa pandemi.

“Ini untuk ketahanan pangan. Budi daya ikan lele dalam ember itu di atasnya ditanami kangkung,” ujarnya.

Selain mengembangkan budikdamber, Unisma juga membantu konsep ketahanan pangan di Pemerintah Kabupaten Jombang. Program unggulan juga menjangkau Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Konsep yang diberikan oleh akademisi Unisma itu untuk pengembangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di desa.

“Ada dua konsep, selain budikdamber juga mengembangkan hidroponik untuk lumbung pangan,” tuturnya.

Sejauh ini, lanjutnya, Unisma getol mengembangkan riset herbal. Keunggulan riset itu pula yang membedakan dengan kampus lainnya.

“Distingsi Unisma itu herbal. Sudah banyak produk olahan herbal dihasilkan dari Fakultas Kedokteran, MIPA, Pertanian dan Peternakan,” ungkapnya.

Selama masa pandemi covid-19, kata Maskuri, Unisma membantu mahasiswa yang bertahan di Kota Malang. Ikatan alumni Unisma dilibatkan dalam membantu masyarakat. Bantuan sosial dalam bentuk sembako dan hand sanitizer disalurkan untuk meringankan beban warga di Malang raya dan sekitar kampus.

Agar masyarakat berdaya secara ekonomi, mereka dilatih berbagai keterampilan. Pasalnya, selama pandemi covid-19, kampus sepi, maka otomatis warung-warung juga sepi pembeli. Inovasi Budikdamber pun jadi pilihan, menjadi salah satu solusi pandemi.

“Apa pun kita gerakkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Walikota Malang Sutiaji bersama Ketua Tim Penggerak PKK Malang Widayati (kedua dari kanan) mengunjungi urban farming di Kelurahan Mulyorejo dan kampung eloevera di Kelurahan Ciptomulyo. (Foto: Dok. Humas Pemkot Malang)

Malang Herbal

Pemkot Malang menginisiasi pembentukan kampung tangguh yang akhirnya menjadi percontohan nasional. Kampung tangguh itu disinergikan dengan urban farming tanaman herbal.

Walikota Malang Sutiaji mengungkapkan saat ini ada 88 kampung tangguh. Sebanyak 61 kampung dibentuk oleh Kodim 0833/Kota Malang dan 27 kampung mandiri oleh warga. Adapun urban farming sudah berkontribusi manjaga inflasi, dan memberikan nilai-nilai pemberdayaan perempuan serta penguatan ekonomi keluarga.

“Realisasi urban farming seluas 1.014 hektare lahan sawah dan 1.748 lahan bukan sawah tersebar di 57 lokasi,” katanya.

Detail lokasi urban farming masing-masing 11 lokasi di Kecamatan Klojen, Blimbing dan Sukun. Selain itu masing-masing 12 lokasi di Kecamatan Sukun dan Kedungkandang. Budi daya kolam dilakukan oleh 277 orang, budi daya keramba 45 orang dan UMKM olahan ikan 85 orang. Produksi padinya 15.675 ton gabah kering giling, produksi ikan kolam sebanyak 118,81 ton dan ikan keramba 12,58 ton.

]]>
https://desa-in.com/2020/09/24/budikdamber-unisma-tumbuhkan-ekonomi/feed/ 0
BUM-Des Bangun Kolam Renang di Atas Bukit Padas https://desa-in.com/2020/09/22/bum-des-bangun-kolam-renang-di-atas-bukit-padas/ https://desa-in.com/2020/09/22/bum-des-bangun-kolam-renang-di-atas-bukit-padas/#respond Tue, 22 Sep 2020 11:31:48 +0000 https://desa-in.com/?p=916

Hari beranjak siang. Ratusan pengunjung dari berbagai daerah berdatangan di objek wisata Cottok Inovation Park (CIP), Desa Curah Cottok, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Rombongan warga bahkan rela naik mobil pikep bak terbuka untuk mendatangi tempat unik ini.

Mereka menyusuri jalan tanah berdebu dan berbatu serta udara yang panas. Hal itu ditambah sepanjang mata memandang yang terlihat tanaman kaktus dan pohon-pohon meranggas. Semua itu tak menyurutkan animo pengunjung untuk berwisata. Bahkan, tak menghalangi mereka berenang di puncak bukit padas tersebut.

Kolam renang di atas bukit itulah yang menjadi daya tarik wisatawan. Kendati objek wisata berada di atas bukit padas, tapi ramah lingkungan. Di areal seluas 16 hektare ini dibangun panel pembangkit listrik bertenaga surya dan angin. Listriknya untuk penerangan dan menghidupkan pompa air. Energi baru terbarukan itu sejalan dengan spirit warga menghijaukan bukit sikelap. Dalam Bahasa Madura, sikelap itu petir.

Sejumlah warga yang ditugasi sebagai pengelola wisata membagi tugas. Mbuhairi, Ansori, Tuki dan Sayadih sibuk beraktivitas mengebor sumur, mengawasi pengunjung yang berenang, ada pula yang membersihkan lingkungan.

“Tanah di bukit ini dulunya tidak bisa di apa-apakan. Bagi orang lain, lahan padas itu tidak berpotensi. Tapi bagi kami, justru menyimpan potensi tersembunyi dan layak dikembangkan,” tegas Kepala Desa Curah Cottok, Kecamatan Kapongan, Situbondo, Muhammad Samsuri Abbas beberapa  waktu lalu.

Pantang Mengeluh

Di “bukit petir” ini dulunya tidak aman dikunjungi. Saat musim hujan, petir sering menyambar. Imbasnya, bukit jadi sepi dan tak berpenghuni. Warga enggan ke bukit juga lantaran takut begal. Reputasi desa jadi negatif karena terkenal tinggi angka kriminalitasnya. Jangankan warga desa tetangga, warga setempat saja emoh menyambangi daerah ini. Kebanggaan terhadap desa pun luntur, bahkan sirna. Kebanyakan warga malu mengakui diri berasal dari Desa Cottok karena telanjur lekat dengan stigma negatif.

Bukit pun seperti mati apalagi tanahnya sulit diolah. Warga sempat mencoba peruntungan menanam kacang tanah dan budi daya buah kelengkeng, tapi akhirnya gagal. Penyebabnya, pasokan air minim, kawasan tidak aman, tanahnya padas dan tidak ada listrik.

Hal itu membuat mayoritas warga hidup serba kekurangan. Mereka hanya mengandalkan dari buruh tani, buruh bangunan dan tukang kayu. Ada hasil dari buah mangga, itu pun panen hanya dinikmati setahun sekali. Selama belasan tahun, masyarakat belum mengetahui potensi tersembunyi di bukit petir tersebut.

“Desa ini dulunya sangat miskin. Dari 600 keluarga, sebanyak 400 keluarga kategori prasejahtera,” ungkap Muhammad Samsuri Abbas.

Kisah sedih di daerah yang sempat susah itu sebelum 2016. Namun, warga rupanya tak begitu saja pasrah apalagi berlama-lama mengeluh. Tanah padas bukan berarti tidak bisa diolah agar lebih menguntungkan. Akhirnya, Muhammad Samsuri Abbas sebagai Kepala Desa Curah Cottok berinisiatif bersama warga membuat gerakan perubahan.

“Membangun desa itu harus progresif. Impian kami penghijauan menyelamatkan sumber air di bawah bukit,” tegasnya.

Akan tetapi niat baik membangun desa menemui hambatan. Tanah milik desa di bukit itu ternyata bertahun-tahun dikuasai seorang pengusaha. Sejak 1994, pemerintah desa sebelumnya menyerahkan hak guna usaha ke orang lain.

“Tanah hanya dibiarkan telantar,” imbuhnya.

Saat pengusaha itu minta izin perpanjangan hak guna usaha (HGU), Pemerintah Desa mengecek detail riwayat penguasaan lahan. Selama 2016 negosiasi, akhirnya pengusaha menyerahkan lahan itu ke desa.

Kolam Renang

Sejak saat itu, pemerintah desa mencoba budi daya buah kelengkeng. Tapi usaha menuai kegagalan. Pasokan air di embung beralaskan terpal di puncak bukit setinggi 67 meter di atas permukaan laut (mdpl) dinilai masih kurang kendati warga sudah berupaya menyedot dari sumber air di bawah bukit dan sumur bor sejauh 1 kilometer. Untuk menggerakkan pompa, awalnya menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Belakangan, warga membuat panel pembangkit listrik tenaga surya. Listrik ramah lingkungan itu kini menggantikan BBM.

Keberadaan embung justru menjadi sumber inspirasi. Semula embung sebatas digunakan bermain oleh warga. Mereka berenang saban sore. Anak-anak berenang di atas bukit. Lama-kelamaan, tempat itu pun ramai dikunjungi jadi hiburan rakyat yang langka dan mengasyikkan.

“Bagi kami, berenang di embung itu sebuah peluang bisnis dan menginspirasi. Lalu terpikir membuat usaha kolam renang di atas bukit,” ujarnya.

Samsuri Abbas bersama warga terus bersemangat. Mereka juga dibantu akademisi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pusat Inkubasi Inovasi Teknologi Ikatan Alumni ITB pun turut membantu.

Perangkat desa setuju. Warga pun sepakat. Kolam renang dibangun menggunakan uang BUM-Des dengan modal penyertaan dari pemerintah desa Rp300 juta. Semula desa hanya punya usaha jasa travel, kini mengembangkan objek wisata. Warga miskin dikasih bantuan 100 ekor kambing untuk pemberdayaan. Keuntungan BUM-Des untuk membiayai warga lanjut usia sebanyak 125 orang dan membangun desa.

Alhasil objek wisata CIP pun membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Perekonomian tumbuh positif, berhasil mengurangi angka kemiskinian dan pengangguran. Kini, warga melanjutkan penghijauan, berusaha mengubah bukit cadas menjadi hijau dengan penerangan listrik dari panel pembangkit listrik tenaga surya.

Di taman inovasi itu sekarang sudah mengubah yang miris menjadi menguntungkan. Kepercayaan diri dan kebanggaan masyarakat pun meningkat. Desa Curah Cottok jadi populer setelah ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

]]>
https://desa-in.com/2020/09/22/bum-des-bangun-kolam-renang-di-atas-bukit-padas/feed/ 0
Selamatkan Penyu Eksotis Bawean https://desa-in.com/2020/09/21/selamatkan-penyu-eksotis-bawean/ https://desa-in.com/2020/09/21/selamatkan-penyu-eksotis-bawean/#respond Mon, 21 Sep 2020 06:38:13 +0000 https://desa-in.com/?p=898

Foto-foto dokumentasi Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Hijau Daun di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, menyelamatkan telur penyu sebelum Covid-19

Para pemuda di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mengabdikan dirinya untuk melestarikan lingkungan. Mereka menanam mangrove, menyelamatkan penyu dan penyadaran secara damai guna menghindari konflik sosial.

Sebelumnya, ada saja orang yang mengambil telur penyu secara ilegal di cagar alam Pulau Noko Selayar yang lokasinya tak jauh dari bibir pantai Desa Daun, Kecamatan Sangkapura. Pulau kecil itu berada di tengah Pulau Bawean.

Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des) Desa Daun, Sangkapura, Gresik, Subhan, mengatakan semula para pemuda desa bukannya mendiamkan aksi penjarahan telur penyu. Tetapi berbagai upaya edukasi sudah dilakukan. Namun, toh belum ada perubahan perilaku. Para pemuda desa tak menyerah. Mereka getol sosialisasi dan edukasi tentang pelestarian lingkungan.

Subhan memutar otak, mencari cara tepat dan damai untuk menyadarkan warga yang doyan mengambil telur penyu. Sejak beberapa tahun lalu, ia dan para pemuda membeli telur-telur penyu itu. Selanjutnya menangkarkan telur di pantai yang kini masuk areal ekowisata desa setempat.

“Strategi membeli telur penyu justru mampu meluluhkan hati warga. Lama-kelamaan mereka akhirnya sadar sehingga berhenti menjarah telur penyu di pulau cagar alam,” tegas Subhan akhir pekan kemarin.

Setelah Subhan dan pemuda desa pecinta lingkungan rutin menjaga pulau, penyu-penyu pun semakin percaya menitipkan telur di pulau yang menjadi rumah bersama bagi satwa daerah setempat. Sekarang, satwa eksotis itu lebih sering menyambangi pulau setelah beberapa tahun lalu enggan pulang lantaran merasa tak aman bertelur di rumah sendiri.

“Biasanya kita mendatangi orang yang mengambil telur penyu sisik di Pulau Noko Selayar. Telurnya kita beli sembari sosialisasi dan edukasi. Dari 86 telur penyu sisik yang pernah kita pindahkan, sebanyak 45 telur menetas. Tukiknya sudah kita lepaskan sejak Oktober 2017,” ujarnya.

Luas Pulau Noko Selayar tersisa 0,8 hektare dari semula 10 hektare labih akibat pasir putihnya dijarah beberapa tahun lalu. Berton-ton pasir dikeruk untuk dijual ke luar Bawean. Akibatnya, ekosistem semakin menurun apalagi mangrove juga tak luput dari aksi pembabatan sejak 1998. 

Pulau cagar alam menjadi kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Penetapannya sejak 25 Oktober 1926 berbatasan dengan Desa Dekat Agung dan Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik. Sampai sekarang, pulau juga menjadi rumah singgah bagi burung camar yang bermigrasi dari Australia.

Siswa melepas tukik sebagai bentuk pendidikan lingkungan usia dini.

Ekowisata

Semangat para pemuda desa berlanjut sampai sekarang. Pulau Selayar masih menjadi transit penyu. “Kami mengimbau masyarakat agar memberitahukan ke kami bila melihat penyu atau tukik untuk diselamatkan,” imbuh Subhan.

Adapun musim bertelur penyu biasanya pada September-Oktober. Penjaga hutan mangrove ini melibatkan masyarakat saat melepasliarkan tukik. Mereka yang ingin berpartisipasi diminta berkontribusi menyumbang secara sukarela Rp5 ribu per ekor tukik. Pelepasan tukik pun menjadi daya tarik pariwisata tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Wisatawan juga gemar snorkeling dan diving, termasuk berkeliling pantai menggunakan perahu.

Menurut Subhan, penyu sisik setiap tahun bertelur di areal ekowisata Desa Daun. Pemuda desa yang mengelola ekowisata itu berusaha menyelamatkan penyu yang bertelur agar menetas secara alami. Caranya dengan memagari lubang tempat penyu bertelur agar tidak disergap biawak. Semula ada 6 lubang dan 2 lubang sudah menetas. Kini, lubang-lubang tempat telur kian banyak.

“Setelah menetas, tukik-tukik itu kita lepas liarkan lagi ke habitatnya,” tuturnya.

Subhan yang juga Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Hijau Daun berharap, ekowisata bisa berkembang pesat sembari didukung budidaya hasil laut agar lebih meningkatkan ekonomi masyarakat.

Dengan begitu nantinya bisa jadi desa percontohan dengan keunggulan pelestarian lingkungan. Areal ekowisata juga akan diperluas termasuk membangun jalan alternatif dan areal parkir tanpa merusak lingkungan setelah semakin banyak wisatawan yang datang ke tempat itu.

Para pemuda terus merawat terumbu karang di kawasan itu. Bahkan ada terumbu karang menyerupai stupa candi di dasar pantai. Pengunjung ekowisata bisa menikmati berwisata bawah laut yang menakjubkan. Sejauh ini, lanjutnya, hasil ekowisata untuk meningkatkan pendapatan para pengelola wisata dan membangun infrastruktur di desa setempat. Jumlah pengunjung rata-rata 400 orang per hari, pada Sabtu dan Minggu sekitar 800 orang, dan hari besar bisa mencapai 1.000 orang.

“Dengan melestarikan lingkungan di desa, terbukti bisa menyejahterakan warga,” pungkasnya.

]]>
https://desa-in.com/2020/09/21/selamatkan-penyu-eksotis-bawean/feed/ 0
Sarjana Bisnis Keripik Pisang di Pinggir Malang https://desa-in.com/2020/09/20/sarjana-bisnis-keripik-pisang-di-pinggir-malang/ https://desa-in.com/2020/09/20/sarjana-bisnis-keripik-pisang-di-pinggir-malang/#respond Sun, 20 Sep 2020 03:12:46 +0000 https://desa-in.com/?p=808

Kepala Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Helmiawan Khodidi (kanan) membantu mengemas keripik pisang buatan warga desa setempat, beberapa waktu lalu. Foto-foto diambil sebelum masa Covid-19.
(Desa-In/Bagus Suryo)



Kepala Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Helmiawan Khodidi bersemangat memotivasi warganya untuk usaha mandiri. Saban hari ia mengunjungi warga untuk berdialog, mendengar masukan dan memberikan saran-saran.

Saat hari belum begitu siang, Khodidi mampir di industri keripik pisang. Di tempat usaha itu, sejumlah warga sedang sibuk bekerja mulai mengupas dan mencuci buah pisang. Pekerja lainnya mengiris tipis pisang untuk ditempatkan pada wadah tersendiri. Yang lainnya menggoreng dan mengepak keripik. Keripik buatan warga di Tumpukrenteng terkenal lebih renyah dan gurihnya khas. Yang membuat berbeda itu pada bahan baku jenis pisang.

“Keripik ini dari pisang rojo nongko dan pisang kepok,” tegasnya.

Khodidi menyaksikan lansung proses produksi keripik. Sriamah, pekerja industri rumahan keripik di tempat itu, cekatan mengaduk potongan tipis pisang. Tangan kirinya memegang kuat pinggir wajan berukuran sedang. Ia tanpa henti mengaduk, sesekali berbincang santai dengan Siti Fatimah dan Sri yang melakukan aktivitas serupa.

Sembari duduk di kursi kayu, ketiganya mencampurkan cairan gula pasir pada irisan tipis pisang hingga merata. Selanjutnya, memisahkan ke wadah baskom untuk siap digoreng. Adapun Syamsul Arifin bertugas menggoreng hingga jadi keripik pisang. Setelah keripik matang, langsung ditaruh di meja samping penggorengan.

Afida bergegas mendinginkan keripik dengan bantuan kipas angin. Tangan perempuan itu cekatan, mengaduk-aduk keripik hingga dinginnya merata. Setelah dingin, keripik-keripik tersebut langsung diangkut oleh Husnah dan Munifah ke ruang depan rumah. Ketiganya mengemas dalam wadah plastik seberat 1 kg per kemasan.

Syamsul Arifin menggoreng keripik pisang. Foto diambil sebelum masa Covid-19.

Pilih Mandiri

Syamsul adalah Sarjana Administrasi Bisnis/Administrasi Niaga Universitas Merdeka Malang. Pria itu anak dari Sumarni, mantan TKI. Sang ibu pernah bekerja enam tahun di Hongkong. Namun, akhirnya memutuskan mengembangkan usaha keripik pisang di desa. Sumarni berpesan agar anaknya tidak pergi ke kota apalagi ke luar negeri hanya untuk mencari pekerjaan.

Di pelosok desa pinggir Malang, mereka berdaya secara ekonomi. Pemuda setempat mulai sadar, membangun desa jauh lebih baik ketimbang bekerja di kota apalagi di luar negeri. sesulit apa pun memulai usaha di desa sendiri hasinya masih lumayan ketimbang terlunta-lunta hingga “Negeri Jiran”.

Menurut Syamsul, memang awalnya tidak mudah dalam merintis usaha. Ia menceritakan perlu kerja keras terutama saat menawarkan produk. Ia harus mendatangi warung-warung. Itu pun tak langsung diterima. Konsumen perlu mencoba rasa keripik. Bila cocok, baru bisa dibilang laku. Seiring berjalannya waktu, Keripik buatan Syamsul berkembang merambah supermarket di Surabaya. Distributor camilan pun mulai kepincut produk anak TKI ini.

“Kami merintis dari bawah. Sering jatuh bangun. Bahkan, menawarkan keripik pisang sering ditolak, diremehkan dan tak digubris calon pembeli. Tapi saya tidak menyerah,” katanya.

Syamsul yang pernah bekerja sebagai penjaga toko namun akhirnya memutuskan berusaha mandiri itu tergerak oleh semangat untuk maju. Saat mengawali usaha, lanjutnya, memang banyak ditolak. Akan tetapi tidak putus asa. Getirnya jatuh bangun pun sering ia rasakan.

“Pemuda desa banyak yang berpandangan, lebih baik punya usaha sendiri kendati kecil daripada menjadi buruh,” ujarnya.

Seorang pekerja mengemas keripik pisang. Foto diambil sebelum masa Covid-19

Berbagi Sukses

Kini produk keripik pisang Desa Tumpukrenteng banjir pesanan. Ia sampai kesulitan memenuhi banyaknya permintaan terutama selama Ramadan, Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Omzet usaha keripik yang dijual Rp15 ribu per kg dengan kapasitas produksi 2 ton mencapai Rp50 juta. Keuntungannya bisa mencapai 30%.

“Kami terus berupaya mengembangkan kapasitas, banyak permintaan tidak terlayani. Ada order, tapi hanya bisa melayani separo,” tuturnya. Syamsul tak ingin sukses sendiri. Ia mengajari dan membina warga yang termotivasi untuk mandiri. Karenanya ia getol mengajak pemuda dan warga lainnya agar mengikuti jejaknya.

“Kalau ada yang mau, kami terbuka. Mereka yang membutuhkan bimbingan, saya siap ngajari.”

Adapun kendala yang dihadapi UMKM keripik pisang selama ini terkait mahalnya bahan bakar. Itu sebabnya perajin menggunakan kayu lantaran masih dinilai lebih murah ketimbang gas elpiji. Ia membeli kayu hanya Rp1,650 juta, bisa bertahan 2 kali produksi atau selama dua pekan mampu memproduksi 2 ton. Sedangkan menggunakan elpiji butuh Rp6,6 juta. Kalaupun pakai solar juga ribet diperizinan.Gutentor Advanced Text


Cabai Bubuk

Selain perajin keripik pisang, pemuda yang sukses juga dirasakan oleh Anjuri. Ia memiliki usaha cabai bubuk, pasarnya di Surabaya. Cabai segar yang dikeringkan selanjutnya digiling halus untuk memenuhi banyaknya permintaan dari home industri makanan.

“Saya memproduksi bumbu tabur pedas alami. Mampu produksi lima ton cabai. Saya termotivasi bekerja di desa sendiri,” kata Anjuri.

Mantan TKI di Malaysia itu memilih usaha sendiri ketimbang mengais ringgit di “Negeri Jiran”. Menurut Anjuri, tantangan perajin cabai bubuk pada harga cabai yang kerap tidak stabil. Perajin menilai, harga cabai seharusnya Rp20 ribu per kg agar UMKM bisa berbagi hasil. Sejauh ini pemerintah desa memberikan pembinaan. Para perajin dan pelaku UMKM itu dibekali pelatihan dan permodalan. Bahkan juga mengusahakan bantuan peralatan mesin.

Kades Tumpukrenteng Helmiawan Khodidi menyatakan terus mengembangkan potensi desa agar warga bisa mandiri. Pelaku UMKM dihimpun dalam paguyuban sesuai produknya yaitu keripik pisang, samiler, kue dan bunga melati. Perangkat desa membantu mencarikan pasar.

“Pasar merambah Surabaya, luar Jawa dan luar negeri. Dari sisi pemasaran tidak kesulitan. Bahan baku dipenuhi sendiri. Ketahanan pangan sudah dikembangkan diantaranya memanfaatkan lahan kosong agar menjadi produktif,” ungkapnya.

Setelah mengembangkan UMKM dan pertanian, jumlah TKI di desa itu terus menurun. Dari sebelumnya 500 orang, sekarang hanya sekitar 200 an yang masih tergiur menjadi TKI di Hongkong, Arab Saudi, Singapura, Taiwan, Jepang, Perancis, Inggris.



]]>
https://desa-in.com/2020/09/20/sarjana-bisnis-keripik-pisang-di-pinggir-malang/feed/ 0
Ternyang Bikin Pembatik Sejahtera https://desa-in.com/2020/09/19/ternyang-bikin-pembatik-sejahtera/ https://desa-in.com/2020/09/19/ternyang-bikin-pembatik-sejahtera/#respond Sat, 19 Sep 2020 10:40:09 +0000 https://desa-in.com/?p=791

Pembatik di Sanggar Batik Seng, Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto diambil sebelum masa Covid-19.
(Desa-In/Bagus Suryo)

Pengerjaan motif batif buah kesemek itu cepat kelar. Kain berukuran dua meter yang disampirkan di depan Siti Romlah perlahan tapi pasti penuh dengan warna. Ia membatik bersama Suindah, Tunik dan Khoirun Nisa.

Warga Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu tekun membatik lantaran permintaan sedang meningkat. Permintaan batik menyongsong Hari Batik Nasional pada 2 Oktober mendatang. Mereka telaten mencelupkan canting ke lilin. Goresan demi goresan memenuhi kain dasar putih.

Setelah proses itu, memasuki pewarnaan dengan menggodok kain. Tugas itu dikerjakan oleh sejumlah pembatik lainnya, yaitu Siti Khotimah, Herti, Nopi dan Ngadiah. Kain digodok untuk menghilangkan lilin. Semiarni, Farida, Ulfa, Wasilah dan Isnaeni menjemur kain pascaproses pewarnaan. Sedangkan Indah Nafisah yang mengentas kain batik tersebut.

Di rumah produksi batik tak jauh dari Bendungan Sutami, Kabupaten Malang, sekitar 20 orang rutin memproduksi batik. Ibu-ibu berusia 30-50 tahun warga desa itu sebagian besar mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Dalam beberapa tahun belakangan, mereka berdaya dari menghasilkan karya. Usaha bersama batik buatan warga sudah banyak diminati konsumen. Bahkan mampu membendung kepergian Tenaga Kerja Wanita (TKW) untuk kembali bekerja di Malaysia, Taiwan dan Arab Saudi.

“Ibu-ibu pembatik ini sebagian mantan TKI,” kata Koordinator Pembatik Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indah Nafisah baru-baru ini.

Menurut Nafisah, mengajak ibu-ibu rumah tangga agar produktif itu tak mudah. Perlu waktu dan kesabaran. Mereka sulit dikumpulkan untuk urusan kerja sampingan. Maklum, ibu-ibu itu perempuan desa. Aktivitas utamanya bertani. Dari pagi sampai siang hari bersama suami di sawah. Perempuan lainnya sibuk mengurus anak di rumah. Ada juga yang jualan di pasar. Sedangkan yang mantan TKW memilih tak ke luar rumah alias berdiam diri di rumah atau justru jalan-jalan ke mall.

Perajin menjemur kain batik. Foto diambil sebelum masa Covid-19.

Getol Sosialisasi

Namun, Nafisah tak menyerah. Ia mengajak warga agar produktif. Pekerjaan sampingan bisa meningkatkan ekonomi keluarga. Sebab, perempuan harus mandiri. Hasilnya bisa untuk membantu suami dalam mencukupi kebutuhan dan sekolah anak. Saat pertemuan PKK dan pengajian, ia sosialisasi. Sejak dua tahun lalu, upaya penyadaran rutin dilakukan. Akhirnya menemui keberhasilan. Sejumlah ibu rumah tangga bersedia diajak usaha batik.

“Saya harus bersabar karena mereka minta diantar ke tempat pelatihan. Maklum, nama Desa Ternyang sesuai dengan karakter warganya. Konon nama Ternyang itu bermakna Yen ora diter, ora nyang (Kalau tidak diantar, maka tidak berangkat,” ujarnya.

Semula ada lima pembatik mencoba membuat motif sendiri. Hasil karya dijual ke pasar Rp150 ribu per potong. Tak disangka, animo konsumen cukup tinggi. Batik buatan warga Ternyang itu laku di pasaran.

Setelah batik pertama laku, batik-batik lainnya terserap pasar. Hal itu memantik semangat para pembatik lain di desa setempat. Bahkan, sejumlah TKW memutuskan tidak kembali ke luar negeri. Pasalnya, bekerja mandiri di desa ternyata lebih menguntungkan. Usaha batik yang mereka geluti lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga.

Perajin menjemur kain batik. Foto diambil sebelum masa Covid-19.

Pelatihan Batik

Para pembatik yang sudah mahir mengajari warga lainnya. Warga juga mendapat kepelatihan dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Kerja Singosari, Malang. Pelatihan program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja rutin digelar saban tahun.

“Setelah mengikuti kepelatihan, batik yang kami produksi semakin baik dan berkualitas, bisa laku Rp250 ribu per potong,” ungkapnya.

Kini, di industri rumahan itu, para ibu rumah tangga mampu memproduksi 40 batik per pekan. Produksi belum termasuk batik yang dihasilkan sendiri di rumah masing-masing warga. Mereka menerima banyak pesanan setelah batik Ternyang kian populer.

Tokoh Masyarakat Desa Ternyang, Abdul Haris, mengatakan usaha bersama batik terbukti mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Awalnya bermodal Rp5 juta, sekarang sudah berkembang menjadi puluhan juta. Hasil batik para perempuan desa pun membantu suami mereka dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Sementara itu, Kepala Seksi Pelatihan dan Sertifikasi UPT Pelatihan Kerja Singosari, Provinsi Jawa Timur, Sentot Fajar mengatakan pelatihan batik merupakan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.

Hasil yang diharapkan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) lebih berkualitas, mampu bersaing di pasar global. Menurut Sentot, ketika perempuan lebih berdaya, perekonomian desa pun semakin maju. Tumbuhnya ekonomi desa juga berimbas bisa membendung tingginya laju urbanisasi dan migrasi.

Selain batik, kata Sentot, warga desa juga dibekali keterampilan servis ponsel, gulung dinamo, finising mebel dan membuat aneka makanan olahan.

Sekarang, kesadaran dan kapasitas SDM warga setempat semakin meningkatkan. Desa Ternyang pun terus bangkit dan berdaya sekaligus melunturkan anggapan masyarakatnya selama ini “Yen ora diter, ora nyang”.


]]>
https://desa-in.com/2020/09/19/ternyang-bikin-pembatik-sejahtera/feed/ 0
Riwayat Pala Ditukar Manhattan https://desa-in.com/2020/09/17/riwayat-pala-ditukar-manhattan/ https://desa-in.com/2020/09/17/riwayat-pala-ditukar-manhattan/#respond Thu, 17 Sep 2020 14:33:00 +0000 https://desa-in.com/?p=782

Petugas menjelaskan berbagai komoditi rempah-rempah pada pengunjung. Foto-foto dalam acara Pekan Budaya Indonesia 2016 di Taman Krida Budaya, Kota Malang, Jawa Timur.

Berabad-abad nenek moyang bangsa Indonesia tidak membutuhkan kapal mesin dan kompas dalam mengekspor barang dagangan dari Pulau Jawa untuk sampai ke pulau Sumatra, Kalimantan, Indo-China hingga Madagaskar. Sekali berlayar, geladak kapal terisi penuh komoditas pertanian dan perkebunan dari hasil panen.

Para leluhur bangsa mengarungi laut membawa misi berdagang hasil bumi diantaranya beras dan rempah-rempah. Mereka tak pernah ragu-ragu dalam melangkah. Sebab, kegagalan bisa membawa konsekuensi mengerikan, yaitu pulang tanpa hasil. Pedagang lainnya, mendayung perahu menyusuri sungai menuju pelabuhan. Sesampai di pusat perdagangan, mereka ambil bagian. Bukan sekadar transaksi, tapi berkontribusi mengenalkan hasil bumi, bahasa, adat istiadat dan budaya.

Giles Milton, menulis Pulau Run, Magnet Rempah-Rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan. Milton menggambarkan betapa kaya rayanya penduduk di Pulau Run. Pulau itu tertera sangat besar dalam peta abad 17. Run paling dicari dan dibicarakan di dunia. Aroma khas dari tanaman itu menyeruak tercium beberapa mil jauhnya sejak sebelum kapal terhenti oleh karang-karang yang tajam. Menurut Giles Milton, para pelaut dan pedagang Eropa memburu buah yang oleh ahli botanis disebut Myristica fragrans. Warga lokal menyebutnya pala, sama seperti para pedagang Inggris mengenal buah eksotis berwarna kekuningan berdaging tebal tersebut.

Namun, pala tak mudah didapatkan. Mereka yang menginginkan lebih, harus berani mengarungi laut dan menghadapi serangan orang yang demen berperang. Sebelum orang Eropa sampai di pulau kaya rempah-rempah, para pedagang London biasanya membeli komoditas itu di Venesia. Sedangkan para pedagang Venesia kulakan rempah-rempah di Konstantinopel.

Pala yang sampai di pelabuhan pusat perdagangan dunia tersebut dari Samudra Hindia. Untuk sampai ke tempat itu dikabarkan amat sangat berbahaya. Orang asing langsung diserang ketika baru muncul di Kepulauan Banda. Karena itu orang Portugis memilih menunggu datangnya pala di Malaka ketimbang masuk pulau berbiaya mahal dengan resiko mati mengenaskan.

Pulau Run berada di Kepulauan Banda, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Pulau itu seluas 3 kilometer, lebarnya sekitar 1 kilometer. Riwayat pulau eksotis penghasil pala satu-satunya di Nusantara ini sungguh menakjubkan. Kisah heroik menyertai penduduk kepulauan tersebut.

Pulau itu pernah jadi medan perang dan persaingan bisnis yang sengit. Orang Portugis, Inggris dan Belanda bertaruh nyawa demi buah mirip kacang keriput tersebut. Pala dari Pulau Run sangat pantas diperebutkan lantaran menjadi primadona di Konstantinopel. Pada Abad Pertengahan, Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki) merupakan kota terbesar dan termakmur di Eropa.

Saat itu, pala merupakan kemewahan tiada duanya. Saking mahalnya, segenggam pala dihargai dengan rumah beserta perabot ditambah tanah dan uang. Semula orang Portugis berusaha mendekati pulau kecil tersebut, tapi gagal memanen pala. Selanjutnya, pelaut Inggris berambisi masuk pulau sekaligus merebut pala. Namun, dominasi Inggris dipatahkan Belanda setelah perang beberapa tahun lamanya.

Inggris menguasai kembali Run setelah perang dengan Belanda tahun 1652-1654. Perang kedua negara tahun 1665-1667 diakhiri dengan perjanjian Breda, yakni pulau Run ditukar dengan Manhattan. Pulau seluas sekitar 59 kilometer persegi itu sekarang bernama New York, Amerika Serikat. Inggris yang menguasai Pulau Run menukarnya dengan Manhattan ke Belanda. Sejak saat itu, Run menjadi milik Belanda.

]]>
https://desa-in.com/2020/09/17/riwayat-pala-ditukar-manhattan/feed/ 0